2026-06-30 HaiPress

JAKARTA, iDoPress -Rektorat Universitas Bung Karno (UBK) mengungkapkan, hasil investigasi internal mereka menemukan bahwa Kasat Intelkam Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Prasetyo Purbo Nurcahyo diduga menawarkan uang Rp 50 juta kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) UBK nonaktif, Muhammad Abdimaludin, sebelum demo mahasiswa UBK di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada 15 Juni 2026.
Berdasarkan hasil investigasi tersebut, uang itu ditawarkan sebagai kompensasi agar Abdi mengalihkan lokasi demo mahasiswa UBK dari Istana Merdeka ke depan Gedung DPR.
"Memang Abdi tanggal 14 Juni (2026) siang itu dihubungi oleh aparat kepolisian dari Jakarta Pusat, Polres. Namanya itu menurut Abdi adalah Pak Prasetyo, itu Kasat Intel," ujar Ketua Tim Investigasi Demo 15 Juni UBK, Eko Suryo S, dalam sesi wawancara khusus dengan iDoPress di Kampus UBK, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026).
Eko mengatakan, setelah dihubungi, Abdi bertemu dengan Prasetyo di wilayah Jakarta Pusat.
Dalam pertemuan itu, Prasetyo disebut meminta Abdi memindahkan lokasi demo dari Istana Merdeka ke Gedung DPR.
"Nah untuk itu disiapkan anggarannya lah Rp 50 juta. Itu Abdi juga tidak menerima itu, menolak," ungkap Eko.
Masih pada hari yang sama, sore harinya, Abdi kembali diajak bertemu dengan seorang oknum polisi di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat.
Kepada tim investigasi, Abdi mengaku tidak mengetahui nama lengkap oknum tersebut. Ia hanya menyebut polisi itu berinisial Egi.
Menurut Eko, Egi juga meminta Abdi memindahkan lokasi demo ke DPR.
"Ada anggaran juga itu, malah lebih besar Rp 70 juta. Tapi Abdi juga tidak menerima," tuturnya.
Kemudian, pada hari H pelaksanaan demo, yakni Senin (15/6/2026) sekitar pukul 07.00 WIB, Abdi kembali diminta bertemu dengan aparat kepolisian.
Dalam pertemuan yang kembali digelar di Jakarta Pusat itu, dua senior Abdi di organisasi luar kampus turut hadir. Keduanya juga merupakan alumni UBK.
"Ya sama intinya, yaitu pindahin dong demonya ke DPR. Karena yang minta itu seniornya, maka Abdi tidak bisa menolak. Tapi anggarannya enggak gede Rp 20 juta," jelasnya.
Menurut Eko, berbeda dengan dua tawaran sebelumnya, kali ini Abdi menyanggupi permintaan tersebut dan menyatakan bersedia menerima dana Rp 20 juta.
Namun, uang itu belum langsung diterima Abdi karena masih dipegang oleh seniornya.